Tuesday, March 27, 2018

Memperbaharui (Upgrade) PostgreSQL (di Ubuntu)

Butuh upgrade Postgresql tetapi tidak mau kehilangan database dan role serta user yang lama?

Berikut langkahnya:


1. periksa cluster yang ada
$ pg_lscluster

2. install postgresql versi terbaru
$ sudo apt-get install postgresql-[no.versi]

3. periksa lagi cluster yang ada
$ pg_lscluster

4. matikan service postgresql
$ sudo service postgresql stop

kalau di-pg_lscluster mestinya teksnya bakal jadi merah
menandakan mereka sudah dimatikan.

5. hapus cluster postgresql yang baru
$ sudo pg_dropcluster [no.versibaru] main

atau kalau ragu, rename saja
$ sudo pg_renamecluster [no.versibaru] main nama_cluster_lain

6. upgrade cluster lama
$ sudo pg_upgradecluster [no.versilama] main

nantinya akan ada cluster baru, versi baru.
Coba saja pg_lscluster lagi


7.  silakan drop cluster lama.
$ sudo pg_dropcluster [no.versilama] main

Nah, sekarang bisa postgresql versi baru bisa dinikmati dengan password lama dan database yang lama.

petunjuk didapat dari:
https://gorails.com/guides/upgrading-postgresql-version-on-ubuntu-server

Friday, March 23, 2018

[Bukan Review] LOVE FOR SALE (Spoiler)




Sutradara: Andibachtiar Yusuf
Produser: Angga Dwimas Sasongko, Chicco Jerikho

Pertama-tama, film ini 21 tahun ke atas.
Ini bukan guyonan. Layar LSF sebelum film dimulai berwarna merah dan tulisannya menyatakan 21 tahun ke atas. Dengan kata lain, adik-adik yang masih SMU pun tak boleh menonton film ini.

Namun sejujurnya, film ini tidak layak dapat klasifikasi kejam 21 tahun ke atas kecuali untuk bagian sensitif non-seks dan itupun kalau sadar. Adegan seks, ya... sudah bisa diperkirakan ada, tetapi tidak banyak dan sebenarnya bahkan durasinya sangat singkat. Biar bagaimanapun, ini bukan film tentang seks.

Seperti yang bisa dilihat dari judulnya (dan iklannya), "cinta" di sini tidak nyata. Mungkin dari judul film atau dari iklan, kita akan geli, betapa bodohnya si karakter utama jatuh cinta pada wanita yang jelas-jelas ia "sewa". Mungkin ada yang kemudian menganggap film ini "contekan" dari "Pretty Woman" yang tersohor dari awal 90an, yaa... premis awal punya kemiripan tetapi film ini berkembang yang berbeda. Mungkin ada juga yang merasa film ini mirip dengan Her yang diperankan Joaquin Phoenix, dan ya... premis awalnya juga punya kemiripan tetapi akhirnya mungkin sedikit beda.

Kurasa, yang membedakan antara film ini dengan film-film dengan premis serupa adalah film ini mengajak berpikir, untuk apa sih jatuh "cinta"? Apakah "cinta" itu membuat diri korbannya berubah? Apakah "cinta" itu nyata seandainya obyek cintanya palsu ? Ketika si korban tersentak dari ilusinya, apakah berarti jatuh cinta itu bentuk dari perilaku sia-sia ?

Seusai menonton film ini, sejenak saya merenung, bukankah dalam kehidupan kita banyak sekali cinta pada hal yang kita anggap nyata tetapi bisa jadi sekedar ilusi belaka. Cinta tanah air misalnya, bukankah negeri ini berdiri di atas ide belaka. Kita bahkan tak tahu apakah negeri ini benar-benar mencintai kita walaupun kita sering dijejali propaganda untuk mencintai negeri ini. Apa yang membuat tanah air kita lebih layak dicintai daripada negeri orang lain? Kelak ketika kita menjadi korban ketidakadilan negeri ini dan dimusuhi mayoritas penduduk negeri ini, apakah kemudian rasa "cinta tanah air" yang selama ini kita tumbuhkan menjadi sebuah hal yang sia-sia belaka sejak awal? Jangan-jangan cinta tanah air itu tak lebih dari sekedar transaksi barter, "gue cinta ama tanah air, rela berkorban demi tanah air, selama tanah air memberikan kenyamanan buat gue".

Mungkin terlalu jauh membawa film ini ke ranah politik tetapi beberapa unsur sosial politik menyelinap ke dalam celah-celah kehidupan karakternya. Karakternya adalah sosok "Tionghoa" pemilik toko, yang memiliki teman-teman gaul nobar di kafe-kafe tetapi ketika ingin curhat, tempat mengutarakan uneg-unegnya adalah seorang konservatif yang doyan mengutip ayat-ayat Al-Quran dan tidak sungkan menunjukkan ideologi "Indonesia Tauhid"-nya. Bahkan identitas ke-Tionghoa-an karakter utamanya pun juga masih bisa dipertanyakan lagi dari dialog di tengah-tengah film.

Berbicara tentang cinta palsu, film ini bahkan di awal sempat menampilkan sebuah relasi "cinta" singkat, punah sebelum berkembang, dengan iringan dominasi "relasi kuasa" antara pihak laki-laki dan wanita. Ketika sang laki-laki menampilkan kekuasaan dalam hubungan mereka, sang wanita menangis tak bisa membela diri bahkan sukar berkata-kata. Sumpah, rasanya pengen nimpuk si laki-laki dominan yang tak lain adalah karakter utamanya, memanfaatkan hubungan 'bos - anak buah' karena kegagalan dia menjalin hubungan setara dengan wanita-wanita lain. Bahkan sebenarnya, awal hubungan "cinta" yang jadi plot utamanya juga diawali dengan sebuah relasi kuasa yang timpang, antara klien dan pemberi jasa.

Jika ada waktu, uang, dan pasangan (jomblo pun boleh tetapi lebih afdhol menonton ini berpasangan), maka tontonlah film "romantis" tak biasa dengan ketimpangan strata sosial dan nikmati bagaimana seorang pria jatuh cinta tanpa ia sangka sebelum ilusi cintanya hancur berkeping-keping. Tenang, tidak ada adegan tusuk-tusukan berdarah-darah 'ala psikopat dalam film ini.

PS: Film ini diproduseri oleh orang yang membawa Filosofi Kopi dan Buka'an 8 jadi jangan heran kalau ada poster film Filosofi Kopi nongol atau percakapan WA 'ala Buka'an 8. Selain itu, film ini dibuat oleh sutradara gila bola yang sudah bikin film-film tentang bola dari dokumenter, kisah cinta berlandaskan fanatisme bola, hingga kisah fiktif korupsi di jagat sepak bola, jadi jangan heran kalau banyak unsur sepak bola di film ini.

Friday, February 16, 2018

[BUKAN REVIEW] Black Panther

*dan seperti biasa Spoiler*
*untuk panduan orang tua, ada di bagian akhir*

Black Panther adalah film Marvel yang akhirnya bisa melampaui genre-nya, seperti halnya film The Dark Knight. Layaknya The Dark Knight, ada isu-isu kontemporer dalam film ini dan dapat dikatakan lebih dalam daripada Winter Soldier. Kabar buruknya, sementara The Dark Knight bisa dinikmati tanpa harus berpikir berat, Black Panther mungkin sulit dinikmati. Kuamati, banyak kawan-kawan yang mengeluh filmnya membosankan dan bikin mengantuk. Bahkan saat kutonton tadi, saya dan ibu putriku tertawa sendirian sementara sekitar kami diam sunyi.

Jadi, apa sih kisah film Black Panther ini? Kalau ada yang menceritakan film Black Panther sebagai "perebutan tahta" atau "intrik politik Wakanda", maka itu sama saja menganggap The Dark Knight sekedar film tentang Joker memasang bom di rumah sakit, di kantor polisi, dan bikin onar di sana-sini. Berbeda dengan Joker yang menghibur penonton di kemunculannya, maka Killmonger tidak semenawan Joker, tidak teatrikal, tidak memancing tawa macam Loki. Jadi gak usah heran, film yang dapat pujian dari para kritikus ini justru dianggap membosankan bagi para fans di Indonesia.

Film ini dibuka dengan seorang ayah menceritakan tentang Wakanda, negara yang menerapkan politik isolasi ala tirai besi dengan struktur monarki. Kemudian adegan beralih ke tahun 1992 pasca kerusuhan Los Angeles yang disebabkan tindakan kekerasan polisi rasis. Sementara sekelompok anak-anak afro-Amerika bermain basket di luar, di dalam apartemen, dua orang kulit hitam resah, khawatir polisi kulit putih datang menyerang. Sementara itu, di balik awan, cahaya biru menyelinap menuju ke apartemen. Kelak apa yang terjadi di apartemen ini menjadi latar belakang penyebab cerita dalam film.

Seusai 1992, film mengajak penonton ke Nigeria masa kini, salah satu negara Afrika yang menyimpan problem kekerasan oleh milisi-milisi bersenjata (misalnya Boko Haram). Kita menjumpai sang pahlawan berusaha menyelamatkan mantan kekasihnya yang sedang menyamar menjadi wanita yang diculik oleh milisi. Uniknya, ketika sang macan kumbang berniat menghabisi seorang milisi, si wanita malah menghalanginya, menyadarkannya bahwa sosok milisi yang nyaris dihabisi itu tak lebih dari prajurit anak.

Ketika karakter antagonis diperkenalkan kepada penonton, pembuat film mengajak kita melihat sebuah diskusi di kota London, salah satu bekas penjajah yang kekuasaannya meliputi seluruh penjuru bumi di abad 18-19. Sang antagonis, berdiskusi dengan seorang kurator kulit putih tentang koleksi-koleksi Afrika Barat di museum. Tentu saja, sang antagonis akhirnya menyindir bagaimana museum berhasil mendapatkan koleksi benda-benda Afrika dan bagaimana sang kurator memandangnya jijik sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di museum itu.

Apa yang dikisahkan tadi barulah menit-menit pertama dan dengan latar belakang inilah, film ini menempatkan mitologi budaya pop-nya. T'challa, sang raja muda yang baru dilantik resah melihat ketidakadilan di sekitar negaranya dan mulai mempertanyakan kebijakan isolasi yang dianut leluhurnya. Namun hal itu tidaklah mudah karena rakyat-rakyatnya tak sependapat dengannya. Berbagai perbedaan pendapat timbul mengenai sikap Wakanda terhadap dunia. Di saat yang sama, reputasi raja muda tidaklah sekuat ayahnya.

Dan ya,
film ini bercerita tentang trauma penjajahan, solidaritas atas ketertindasan, isolasionisme, pengucilan, keterasingan, kesetiaan.

Walau karakter komik Black Panther tidak diciptakan oleh Afro-Amerika -- diciptakan oleh duo Yahudi Stan Lee dan Jack Kirby --, si sutradara, Ryan Coogler, memanfaatkan kesempatan ini memamerkan budaya-budaya Afrika yang selama ini diabaikan. Mantra-mantra, siul-siul, dan dentuman musik-musik perkusi? Ada! Tato dan riasan cat tubuh? Ada! Pernak-pernik perhiasan termasuk yang unik? Ada! Bahkan baju koko dengan pola hiasan yang mirip kaligrafi Arab! Menonton tata artistik dan tata busana film ini seperti sebuah jeritan kepada kaum Afro-Amerika: ini budaya leluhurmu!

Layaknya film Marvel di bioskop lainnya, film ini aslinya untuk 13 tahun ke atas (PG-13), namun LSF dengan bijak menaruhnya di 17 tahun ke atas, sayangnya ketertutupan LSF mungkin membuat orang tua garuk-garuk kepala mempertanyakan alasannya. Tidak ada adegan darah di sini (kecuali adegan darah menetes dari luka tembak) namun sepanjang film kita dijejali penuh tembakan membawa maut. Tak hanya itu, film ini juga memiliki adegan-adegan kekerasan akibat pertarungan senjata tajam seperti tombak dan pisau. Pernah melihat adegan Captain America menusuk pembajak dengan pisau di Captain America: Winter Soldier? Nah, adegan tertusuk tombak di film ini lebih banyak, lebih lama dan menampilkan wajah korban yang kesakitan.

Kalau anda adalah orang tua yang ingin mengajak anak nonton film superhero macam Spider-man, maka sebaiknya hindari film ini dan tunggu Ant-Man dan Wasp di bulan lain. Sebaliknya, kalau anda ingin memperkenalkan bahwa kulit hitam memiliki budaya menarik, wanita-wanitanya bisa menjadi wanita-wanita yang luar biasa, dan anda ingin menunjukkan pada anak anda bagaimana perbedaan tentang politik yang membawa perang saudara, maka Black Panther adalah film yang tepat.

Oh iya,
layaknya film sarat politik,
tentu saja, tidak ada solusi 100% benar di sini. Bisa jadi anda justru lebih simpati pada karakter antagonisnya dan menganggap solusi protagonis sebagai sebuah solusi naif. Atau, bisa jadi anda adalah tetua yang pro status-quo cinta kedamaian dan kestabilan walau berarti menutup mata atas ketidakadilan di luar zona nyamanmu.

Friday, January 26, 2018

[Bukan Review] THE GREATEST SHOWMAN *spoiler*

Secara pribadi, menyadari film ini berjenis musikal, menontonnya sedikit membuatku kecewa. Aku punya harapan tinggi tetapi semua rontok kecuali beberapa adegan. Tapi bisa jadi itu semata karena aku sudah menua, tak sanggup menonton gaya sunting potong cepat (quick cut editing).

Tanpa Wikipedia, tanpa google, semata dari film semata, aku sok menerka "perlawanan" di film ini. Kisahnya mengambil masa Victoria muda, yang masih berpikiran maju (belum kolot), belum menikah dengan Pangeran Albert.

Di masa ini, kaum kapitalis sedang mencoba meraih tempatnya sementara kaum aristokrat mencoba mempertahankan posisinya. Tokoh utama film ini adalah sosok proletar yang menjelma menjadi kapitalis namun masih memiliki dendam ingin dihormati kaum aristokrat. Walau ia sudah memiliki modal besar, dendamnya membara melihat anaknya dilecehkan "bau kacang" oleh kawan-kawan balet yang rata-rata dari para aristokrat.

Tokoh utama sang kapitalis, berhasil menarik aristokrat muda menanggalkan kastanya, warisannya, dan bersama-sama mengais rezeki dengan mengeksploitasi kaum yang terpinggirkan antara lain para cacat tubuh hingga hasil campur ras.

Bisnis mereka sukses, dengan pangsa pasar para kapitalis lain dan kelas menengah namun kerja mereka tak disukai kelas aristokrat maupun kelas proletar. Bagi kelas aristrokat, usaha sirkus mereka tak lebih dari sekedar upaya tipu-menipu sementara bagi para proletar, usaha berbasis eksploitasi mahluk terpinggirkan ini tak lebih dari penyebaran kesesatan.

Phineas, sang tokoh utama, berhasil merayu seorang penyanyi opera kelas atas untuk melakukan pertunjukan tunggal. Melihat akhirnya ia sukses menarik perhatian kaum aristokrat, ia tertarik memanfaatkannya walau - - dasar kapitalis - - dengan mengeksploitasi seniman-seniman miskin agar untung yang didapat lebih tinggi.

Sementara itu, usaha eksploitasi orang-orang terpinggirkannya terlantar, hanya diserahkan pada rekan muda aristokrat yang jatuh cinta pada wanita ras campur. Rekan muda aristokrat ini tak tahu rasanya menjadi kaum bawah dan ia tak punya kemampuan menghadapi proletar konservatif yang berunjuk rasa.

Singkat cerita, bencana pun terjadi dan sang kapitalis pun bangkrut. Di akhir cerita, sang kapitalis menerima takdir bahwa kelasnya adalah kelas kapitalis dan ia tak perlu mencoba menjadi aristokrat. Sementara sang rekan aristokratnya menerima kenyataan bahwa dengan berpindah menjadi kapitalis, ia justru menemukan cinta dan hasratnya dan ia rela kehilangan warisan untuk itu.

Jadi, ya The Greatest Showman bisa ditafsirkan sebagai propaganda kapitalisme. Film ini menjual mimpi bahwa seorang proletar bisa naik kelas menjadi kapitalis. Film ini juga mengajarkan, eksploitasi orang-orang terpinggirkan bisa menjadi bentuk upaya "kemanusiaan" dengan menampilkan mereka di depan penuh percaya diri. Film ini juga mengritik para proletar konservatif yang menghambat upaya kapitalisme "memanusiakan" orang-orang terpinggirkan.

-- ditulis di Mikrolet 16 Ps Minggu - Kp Melayu

Sunday, December 24, 2017

Fenomena Sejumlah "Skeptis" Terhadap Palestina: Netral atau Berkhayal Netral ?

Ada bedanya antara mencoba bersikap netral dengan berkhayal telah bersikap netral tetapi sebenarnya telah menelan mentah-mentah propaganda Zionis. Keinginan bersikap netral dan adil adalah hal yang layak dipuji. Namun apatah artinya netral jika sikap kritis itu ternyata tak lebih dari hasil menelan mentah-mentah propaganda?

Sepuluh tahun lalu, propaganda zionis biasanya hanya beredar di antara kecil orang-orang Kristen yang percaya Yahudi adalah bangsa terpilih. Sementara kaum Muslimin, bahkan yang paling liberal sekalipun, yang menginginkan hubungan dagang dengan Israel sekalipun, tidak akan menyebarkan propaganda zionis melainkan hanya bersikap realistis bila tidak bisa disebut opportunis.

Sekarang, saya melihat sejumlah skeptisme menyebar bahkan di antara kaum muslim. Dengan gagah berani, menyatakan diri bersikap netral, mereka menyebarkan sejumlah propaganda-propaganda zionis yang sebenarnya tak asing. Propaganda ini mencoba menyebarkan keraguan di antara para pendukung perjuangan Palestina. Bahwa sudah ada beberapa muslim yang mulai ikut menyebarkan propaganda ini, bukti bahwa propaganda ini sudah mulai berhasil.

Berikut tiga contoh propaganda zionis yang mulai menyebar di antara orang-orang yang mengira bersikap netral:

1. BANGSA PALESTINA TIDAK ADA, YASSER ARAFAT BUKAN ORANG ASLI PALESTINA
Bangsa Palestina sesungguhnya memang tidak ada dalam sejarah zaman dahulu, dan bisa disebut bangsa khayalan -- tunggu dulu -- sama fiktifnya dengan Bangsa Indonesia yang tak pernah ada hingga munculnya Perhimpunan Indonesia dan dikukuhkan oleh Sumpah Pemuda. Jika Bangsa Indonesia awalnya adalah etnis Melayu-Austronesia yang memiliki persamaan nasib dijajah oleh Belanda, maka Bangsa Palestina adalah etnis Arab yang memiliki persamaan nasib, yakni tanah mereka dijajah oleh Zionis atau bahkan mereka terusir dari tanah mereka dan tidak terserap secara emosional oleh etnis Arab lain yang sudah membentuk negara sendiri yang tercipta di masa pan-Arabisme.

Yasser Arafat memang lahir di Mesir, sebelum negara Israel lahir. Namun ayahnya dan keluarga dari ayahnya punya ikatan emosional dengan tanah Palestina. Seandainya Yasser Arafat tak punya hubungan keluarga dengan penduduk Palestina, maka kepeduliannya dan rasa emosi terhadap tanah Palestina sudah tak diragukan lagi bahkan ia sudah diakui oleh rakyat Palestina sebagai bagian dari mereka. Ini bukan hal yang asing bagi Bangsa Indonesia. Dalam sejarah Indonesia, sejumlah kaum Indo-Belanda macam Setiabudi (Douwes Dekker) atau HC Princen juga diakui sebagai Bangsa Indonesia oleh rakyat Indonesia.


2. BANGSA PALESTINA SUKA MENCARI MASALAH, TERPECAH BELAH
Para sok-netral biasanya akan memberikan daftar kekerasan yang dilakukan oleh faksi-faksi yang ada dalam perjuangan Palestina terhadap rakyat sipil Israel. Terkadang mereka juga memberikan pertikaian antar faksi-faksi di Palestina, mencoba memberikan pesimisme bahwa perjuangan Palestina akan gagal karena dinilai "menciptakan neraka sendiri".

Seharusnya para sok-netral itu paham bahwa dalam perjuangan meraih kemerdekaan, terkadang munculnya faksi-faksi yang saling bertikai tidak terelakkan. Bahkan Indonesia pun pernah mengalami semula di mana antar faksi saling mengejek, culik-menculik, bahkan bunuh-membunuh. Bahkan di antara faksi yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, kadang ada juga yang melakukan kejahatan perang. Namun semua insiden dalam perjuangan itu tidak berarti keinginan sebuah bangsa untuk merdeka layak diabaikan.

Selain itu, salah seorang sok-netral itu tak sadar, bahwa di antara faksi-faksi bertikai di Palestina sudah ada usaha-usaha rekonsiliasi bertahun-tahun. Bahkan salah satu usaha terbaru untuk rekonsiliasi itu terjadi di tahun 2017 ini. Tapi karena pada dasarnya si sok-netral itu memang sudah menelan propaganda zionis, pengetahuan tentang perpecahan faksi yang ia sebarkan di medsosnya itu tak lebih dari sekedar berita basi.

3. ISRAEL ADALAH NEGARA MODERN YANG JAUH LEBIH DEMOKRATIS DARIPADA NEGERI-NEGERI ARAB
Pertama, harus dibedakan antara bersikap realistis dengan menelan propaganda.
Kita menerima Amerika Serikat adalah negeri yang berdaulat tetapi bukan berarti kita membenarkan berbagai konflik terhadap penduduk asli dalam sejarah negeri mereka. Begitu pula, kita menerima Australia adalah negeri yang berdaulat tetapi bukan berarti kita membenarkan berbagai kebijakan yang merugikan penduduk asli di negeri mereka.

Israel, adalah negara yang sudah menunjukkan kekuatannya berkali-kali, jadi adalah wajar keinginan untuk mengakui kedaulatannya. Namun, bahkan seandainya diakui kedaulatannya pun, bukan berarti harus menutup mata atas penjajahannya terhadap Palestina, menutup mata atas sejarah mereka mengusir etnis Arab di awal-awal berdirinya negara mereka.

Berbicara tentang keterwakilan pun, benar bahwa etnis Arab cukup terwakili secara proporsional di Knesset mereka namun itu hanya jika kita mengabaikan sejarah perubahan drastis perbandingan populasi etnis di wilayah ini pasca Aliyah dan juga mengabaikan populasi yang terusir dari tanah mereka dan belum terserap di negeri tetangga melainkan masih mendamba kembali ke tanah leluhur.

Berbicara tentang "kebaikan Israel", mungkin sebaiknya kenang juga "kebaikan Belanda" atas negeri ini. Dahulu, pasca Perang Jawa, Belanda hanya minta seperlima tanah untuk ditanam tanaman komoditas dan mereka membantu menjualkan ke pasar Eropa dan membagi sebagian kepada penguasa-penguasa lokal. Belanda dengan politik etisnya juga mendidik bangsa Indonesia, bahkan memberikan beasiswa kepada beberapa siswa untuk belajar di negeri mereka. Belanda juga menyediakan posisi-posisi kerja dengan upah lumayan. Perusahaan-perusahaan Belanda di negeri Indonesia juga mempekerjakan tenaga-tenaga kerja pribumi. Lalu kenapa Indonesia masih ingin merdeka dari Belanda ?

Selalu ada kisah di balik kisah, narasi di balik narasi. Tak perlulah saya yang awam ini memaparkan beberapa perbedaan antara teori legal Israel dan praktek di lapangannya. Kalau para sok-netral itu bisa bersikap skeptis kepada perjuangan Palestina, kenapa mereka juga tidak bisa melakukan hal yang sama kepada setiap cerita indah dari Israel ?



SAYA TIDAK BISA NETRAL, SETIDAKNYA SAAT INI TAK BISA NETRAL
Berbeda dengan para sok-netral, saya akui saya tak bisa netral.
Walau sudah bertahun-tahun saya berusaha obyektif, membaca dari kedua sisi, namun saya tetap tak bisa netral dalam memandang konflik ini.
Ketidaknetralan saya sebenarnya irasional dan emosional, yakni hanya karena saya melihat banyak kemiripan antara kisah Indonesia dengan Palestina.

Untuk saya, argumen para zionis yang merasa berhak menguasai tanah Palestina, bergelombang penuh bagai air bah datang dengan gerakan Aliyah mereka, sudah ketinggalan zaman selama tiga belas abad. Ya, sebenarnya, sejak Muslim menguasai Yerusalem, sejak itu pula lah kaum Yahudi sudah bebas pulang ke Yerusalem. Tentu saja, prakteknya, beberapa Yahudi pra-Islam sebenarnya juga sudah ada yang pulang walau harus takluk dan berpindah agama menjadi Kristen di masa Romawi. Sungguh, tak ada alasan buat para imigran Yahudi yang belakangan untuk membuat negeri sendiri dengan mengusir etnis Arab dari tanah mereka yang sudah ditinggali berabad-abad.

Bicara tentang kedaulatan Yahudi pun, bahkan dalam sejarah pasca pendudukan oleh Babylonia, hanya beberapa masa singkat Yerusalem benar-benar merdeka. Kebanyakan berada di bawah kekuasaan bangsa-bangsa lain seperti Persia, Yunani (Seleucid), dan tentu saja Bangsa Romawi. Sangat menggelikan kalau para imigran Yahudi merasa berhak mendirikan negara sendiri dengan alasan sejarah karena kenyataannya, sebagian besar sejarah mereka pasca Babylonia, tak lepas dari campur tangan bangsa lain.

Sejujurnya, ada masa saat berita-berita baik dari Israel membuat saya terlena dan mengira bahwa konflik akan cepat selesai jika Palestina mengakui kekuasaan Israel dengan segera namun ternyata praktek-praktek penyebaran propaganda ini membuat saya kembali berpihak pada Palestina.  Kenyataannya, perlawanan-perlawanan itu tetap ada bahkan usaha-usaha rekonsiliasi antara faksi-faksi Palestina yang selama ini bertikai membuktikan bahwa keinginan Palestina untuk merdeka itu masih ada.

Dan selama nyala api perjuangan Bangsa Palestina masih ada,
saya tetap mendukung Palestina.

Monday, December 18, 2017

Umar Ibn Khattab Memperbolehkan Orang Yahudi Pulang ke Yerusalem



Setelah ini orang-orang Yahudi mengirimkan (kabar) pada sisa (orang Yahudi di) Yerusalem. Mereka (orang-orang Yahudi lain) mengirimkan (kabar) kepada mereka (orang Yahudi di Yerusalem), mengatakan: "Berapa jumlah orang yang boleh pindah ke Yerusalem?" 
Jadi mereka menghadap Umar dan berkata padanya: "Berapa yang engkau perintahkan, hai pemimpin orang beriman, yang diperbolehkan pindah ke kota orang-orang (Ta' ifat) Yahudi? " 
Umar menjawab: "(aku akan mendengar) kata-kata lawanmu, kemudian kau bicara, dan setelahnya aku akan berkata menghilangkan perselisihan di antara kamu." 
Kemudian ia memanggil Uskup dan rekan-rekannya dan mengatakan pada mereka: "aku telah setuju pada mereka (yang tinggal) dibagian reruntuhan kota. Akan ada perpindahan ke sini berapapun yang engkau terima." 
Sang Uskup berkata:"Mereka yang mau pindah dengan keluarga dan anak-anak harus hanya lima puluh keluarga, " yang dijawab para Yahudi: "Kami tidak kurang dari dua ratus keluarga". 
Dan negosiasi terus berlangsung di antara mereka hingga Umar mengusulkan tujuh puluh keluarga dan mereka sepakat atasnya. Kemudian ia berkata: "Di bagian mana kalian akan tinggal?" Dan mereka menjawab: "Di kota sebelah selatan" yaitu pasar para Yahudi karena tujuan mereka agar dekat dengan tempat suci dan gerbangnya dan mata air Silwan untuk upacara membenamkan diri. 
Pemimpin orang beriman mengizinkan mereka dan lalu dari Tiberias sekitar tujuh puluh keluarga pindah bersama wanita-wanita dan anak-anak dan membangun rumah-rumah yang dahulu pernah diruntuhkan bergenerasi-generasi hingga tua.

Diterjemahkan bebas dan ngasal dari kutipan Geniza yang ada di "Seeing Islam as Others Saw It: A Survey and Evaluation of Christian, Jewish, and Zoroastrian Writings on Early Islam" yang disusun Robert G. Hoyland (muridnya Patricia Crone).

Sumber Geniza ini relatif belakangan, mungkin bisa dicurigai turunan dari sumber Muslim tetapi Hoyland berpendapat bisa juga sebaliknya. Adanya detail jumlah keluarga yang pindah kemungkinan diturunkan dari catatan-catatan komunitas Yahudi dari kota tersebut.
sumber foto: http://cojs.org/28857-2/

Wednesday, November 22, 2017

[Bukan Review] NAURA & GENG JUARA : Petualangan Sherina + Home Alone

*Spoiler*
*bagian untuk orang tua ada di bagian menjelang akhir*
*bagian tuduhan pelecehan agama ada di bagian akhir artikel*






"Kalian cuma perduli piala! Buat apa kalian pintar (tapi) kalau melihat penculik satwa kalian diam saja" -- Kipli

Jujur saya awalnya tidak tertarik dengan film ini karena saya sudah pasang target menonton dua film lain. Poster filmnya pun tak mengesankan, tidak menunjukkan tema khusus yang membedakan film ini dengan film lainnya. Kurasa, puteri 6-tahunku akan lebih tertarik menonton film bertema gebuk-gebukan atau film kartun sekalian.

Semua berubah ketika seorang ibu mengajak kawan-kawannya tidak menonton film ini. Selain itu ada juga seorang ibu lain yang sudah menonton dan menyayangkan ucapan istighfar dan takbir dalam film ini. Penasaran akibat berita tersebut, saya pun melihat iklannya dan... oke, saya kelak harus mengajak putri saya menonton ini. Namun karena agak khawatir film ini turun layar sebelum akhir pekan, saya memutuskan menonton film ini selepas bekerja semalam. Tentu saja penonton di bioskop saya sedikit, hanya para ibu-ibu berjilbab bersama putra-putranya.

PLOT CERITA
Awal film, kita diperkenalkan pada tiga dari empat tokoh utama film ini yakni Naura, Bimo, Okky yang sedang berkompetisi di sekolah mereka, SD Angkasa. Seusai penjurian, sekolah mereka memutuskan tiga tokoh ini menjadi wakil untuk perkemahan kreatif di Situ Gunung. Bimo, yang meraih nilai tertinggi, sayangnya tidak terpilih menjadi pemimpin tim. Sekolah memutuskan Naura yang punya pengalaman sebagai pemimpin kelompok. Ini konflik pertama.

Setelah menelusuri selintas tentang latar belakang Naura dan minat Naura serta minat-minat dua tokoh lainnya, kita diperkenalkan pada tiga karakter jahat yang sedang menjelajah hutan dan masuk ke dalam ruang karantina. Di bagian ini kita diperkenalkan pada tokoh utama keempat, Kipli, anak yatim piatu yang dipekerjakan di Kemah Kreatif.

Cerita pun bergulir, dari basa-basi perkenalan di Kemah Kreatif, konflik meningkat antara Bimo dan kedua temannya, dan cerita akhirnya baru benar-benar dimulai ketika alat yang dibuat Bimo tak bisa didemonstrasikan karena satu komponennya hilang dan pencariannya membawa mereka bertemu Kipli di tengah hutan. Pencarian komponen ini juga akhirnya membawa mereka ke mobil para pencuri satwa yang disembunyikan.

Naura dan kawan-kawan menolak ikut campur tetapi Kipli memaksa mereka untuk bertindak tetapi akhirnya berujung pada ditahannya Okky oleh para penjahat. Menyadari kurangnya kekuatan mereka, Kipli, Naura, dan Bimo berlari ke Kemah Kreatif melaporkan pada kakak-kakak "rangers" tetapi mencurigai ada oknum bermain, tiga anak ini akhirnya memutuskan menggunakan kawan-kawan sebayanya sebagai pasukan pelacak penjahat.

KEUNGGULAN TEKNIS
Jika ada yang bilang "sains-nya hanya tempelan", "petualangan so and so", percayalah, mereka sudah bias dengan film ini.

Ada beberapa film anak-anak Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir, sebagian saya lewatkan, sebagian lagi sudah saya tonton, dan film ini, sebenarnya termasuk di atas rata-rata.  Lagipula, saya juga menonton Petualangan Sherina di bioskop (dengan segala degradasi audio-visual) sekitar satu-dua tahun lalu, jadi ingatan saya masih cukup jelas, dan saya berani bilang, dalam beberapa hal Naura di atas Petualangan Sherina.

Pertama, sebagai film anak-anak, tentu saja wajar karakter antagonis dibuat selucu mungkin. Berbeda dengan Petualangan Sherina yang penjahatnya tampak tidak kompeten bahkan tidak tahu apa yang  harus dilakukan, tiga karakter antagonis ini jelas tahu apa yang mereka lakukan. Melihat postur tubuh mereka, kamu tahu bahwa jangan macam-macam dengan mereka.

Kedua, skenario Petualangan Sherina menempatkan tokohnya dalam situasi terisolasi dan hanya di bagian akhir mereka baru bertemu dengan orang dewasa. Cerita Naura melibatkan karakter dewasa namun ternyata situasi menempatkan para anak-anak harus bertindak sendiri. Di sini, Eugene jelas lebih terinspirasi model Home Alone daripada Petualangan Sherina. Ini juga sebenarnya kritikan kita buat orang dewasa yang kadang mengabaikan permintaan tolong dari anak-anak.

Ketiga, saya suka bahwa di Kemah Kreatif, para anak-anak ditugaskan agar karya mereka berhubungan dengan alam. Ada perdebatan panjang di film ini membahas apa pengaruh karya mereka terhadap alam. Sayangnya, penulis skenario tidak membahas lebih panjang, tetapi orang tua yang ajak nonton anaknya mungkin bisa memperpanjang diskusi ini setelah menonton filmnya.



KELEMAHAN TEKNIS
Film ini bagus dan karena bagusnya, saya jadi tergoda untuk mengurangi kelemahan teknis film ini. Sekali lagi, kelemahan di sini bukan berarti film ini buruk.

Juru Keker Kamera di bagian awal film tampak gagap. Ada beberapa ruang kosong yang mengganggu, tampak tidak seimbang dan tidak pula menuruti kaidah sepertiga. Untungnya, kegagapan ini hanya terjadi pada adegan di SD Angkasa di awal film.

Sebagai sutradara film musikal, Eugene Panji tampaknya kurang galak dalam mengarahkan. Ada beberapa adegan menyanyi yang gerakan bibirnya kurang jelas dan begitu disatukan dengan musik oleh penyunting, jadi tampak tak sesuai antara audio dan visual. Selain itu, ada beberapa ketidakkompakan di antara penari yang membuat saya bertanya-tanya, si Eugene ini butuh berapa take untuk setiap adegan tarian? Pengalaman pribadi menemani adik saya, untuk video klip kurang dari 4 menit, bisa butuh seharian di Ancol.

Selain itu, tarian dan musikal bukan berarti harus menghancurkan karakternya. Si Bimo yang sedang kesal pada teman-temannya, begitu adegan musikal tiba-tiba menjadi berwajah riang gembira. Seharusnya, sebagai sutradara, ia memasang Bimo tetap berwajah kesal.

Ada satu ide bagus namun gagal dalam eksekusi, yakni memanfaatkan api obor sebagai "equalizer" untuk panggung musik. Sayangnya ide tersebut tak berhasil karena dua hal, yakni sutradara lebih suka menampilkan tarian Naura sementara ketika si gitaris dan equalizer obor ini ditampilkan, pas bagian yang kurang greget.

Namanya film yang dibiayai sponsor, wajar bila ada penempatan produk. Namun saya menyayangkan minimnya inisiatif sutradara untuk menyusupkan pesan kebersihan. Seharusnya Eugene bisa menyelipkan pesan dengan sederhana, seperti menampilkan kakak pembina yang mengingat untuk membuang sampah pada tempatnya, atau adegan tokoh utama, menaruh sampahnya di dalam tas mereka seusai mengonsumsi produk sehingga tidak mencemari alam.

Pakaian Naura juga layak dikritik, bukan soal moralitas, tetapi soal fungsi. Saya tak bisa membayangkan berjalan dengan celana pendek di tengah hutan melewati rumput-rumput dan semak-semak. Belum lagi dengan suasana yang mungkin berubah dingin dengan cepat. Dan lucunya, saya mencoba memperhatikan anak-anak lain, mereka celana relatif lebih panjang daripada karakter Naura. Jadi bisa disimpulkan, pemilihan pakaian ini hanya sekedar untuk pemanis saja.

Celakanya, pemilihan pakaian ini juga menimbulkan problem kesinambungan ketika adegan beralih dari dunia nyata ke dunia khayal yang divisualkan dalam bentuk kartun. Jelas tidak ada komunikasi antara studio kartun dengan tim produksi sehingga pakaiannya tidak sama. Memang, ketidaksinambungan ini bisa dibela bahwa yang satu adalah dunia nyata sementara yang lain adalah dunia khayal tetapi bukankah  akan lebih baik jika model pakaian sama, untuk menunjukkan persamaan karakter.

Saya juga mengritik penggunaan istilah "ranger" di sini. Kenapa harus menggunakan istilah asing? Kenapa tidak menggunakan istilah macam "Jagawana" atau sesederhana "Kakak Pembina" ?


UNTUK ORANG TUA
Saya bilang, ini film wajib untuk ditonton orang tua dan anak. Ada beberapa pesan yang bisa diajarkan melalui film ini.

Pertama, film ini mengajari anak untuk inisiatif menolong. Tentu saja, ada hal yang membutuhkan bantuan orang dewasa tetapi kurangnya bantuan bukan berarti anak harus diam pasif mengabaikan tindakan kejahatan yang berada di depan matanya.

Kedua, film ini mengajari anak untuk bersedia mengalah untuk kepentingan yang lebih besar baik itu kepentingan kelompok atau bahkan kepentingan universal. Masing-masing anak di film ini memiliki keunggulannya sendiri dan di babak akhir, masing-masing alat punya kegunaan walau ya... mungkin tak semuanya.

Ketiga, film ini mengajari anak untuk mencintai ilmu pengetahuan. Bahkan ada satu adegan anak-anak ini menciptakan hantu menggunakan salah satu sifat koloid.

Memang nyaris semua percobaan yang dilakukan di film ini, kita sudah sering melihatnya di pameran-pameran ilmu pengetahuan tetapi kapan terakhir anda melakukan percobaan ilmiah bersama anak anda? Lagipula, apakah anak anda sudah pernah melihat seluruh hasil oprekan yang tampil di film ini ?


TUDUHAN PELECEHAN AGAMA
Jawaban singkat, saya berpendapat film ini tidak melecehkan agama.
Anggota-anggota LSF yang menonton dan meloloskan film ini untuk Semua Umur berpendapat film ini tidak melecehkan agama.

Namun untuk yang penasaran, baik saya jelaskan.
Ada tiga adegan menyerempet di film ini, dan adegan-adegan ini sangat singkat. Saya mulai dari adegan kedua di tengah film dahulu sebelum membahas yang pertama dan ketiga karena dua adegan tersebut berkaitan.



Di tengah-tengah film, untuk menghentikan aksi, Naura dan teman-temannya menciptakan hantu. Dua dari tiga penjahat yang sedang ditakut-takuti, bergidik dan langsung meringkuk di dalam mobil. Salah satunya langsung membaca doa, namun entah karena panik atau karena memang dungu, ia membaca doa sebelum makan. "Hei, itu kan doa sebelum makan," tegur temannya. Yang ditegur langsung mengambil cemilan, "kalau takut, bawaannya pengen makan".

Ini adegan humor. Tidak ada unsur pelecehan Islam di sini.

Adegan pertama dan ketiga, semua ucapan istighfar dan asma Allah itu dilakukan oleh karakter yang bercelana pendek (di atas lutut), berbaju jingga, bertopi kupluk, jelas bukan simbol Islam. Karakter ini, tampaknya memang dahulu dibiasakan mengucapkan asma Allah. Jadi di bagian awal, ketika dia menerangkan rencana sementara temannya tidak memperhatikan, dia kesal dan bilang, "Astaghfirullah, Li! Dengarkan!".

Di bagian akhir, mobil yang membawa ketiga penjahat ini dihunjam berbagai macam bom dari roket air, bom pasir warna-warni, bom semangka. Dalam rasa takut ini, si karakter spontan mengucapkan, "astaghfirullah.. ya allah.. allahu akbar... astaghfirullah..".

Saya berpendapat ketiga adegan itu bukan pelecehan Islam. Ketiga karakter tersebut memang berasal dari daerah yang beberapa kali terjadi kejahatan pencurian hewan dan mereka melarikan diri ke Jawa. Silakan googling "pencurian satwa [nama daerah tersebut]" dan niscaya anda akan menemukan banyak berita. Kebetulan,  orang-orang di daerah tersebut memang rata-rata beragama Islam. Saya curiga, aktor yang memerankan antagonis bercelana pendek dan bertopi kupluk, dalam menghayati peran, melakukan improvisasi. Ia mungkin mempertimbangkan, kalau seandainya ia menggunakan kata-kata umpatan padahal film ini untuk anak-anak, mungkin malah takutnya ditiru oleh penonton cilik.

Saya tidak berpendapat film ini melecehkan agama dan begitu juga para anggota LSF.

Kalaupun ada yang bisa dikritik, maka saya menyayangkan sterilisasi film ini dari unsur-unsur agama untuk karakter protagonisnya. Seharusnya, kalau antagonis sudah dibuat latar khusus budaya tertentu, maka protagonis pun seharusnya demikian. Namun mungkin karena terlalu takut, maka setiap dialog protagonis bersih dari unsur budaya dan agama. Dengan demikian ucapan spontan karakter antagonis malah jadi terasa menonjol untuk mereka yang sensitif.



Sekali lagi, saya berpendapat film ini tidak melecehkan agama.
Bahkan kalau mau teliti, karakter Bu Laras -- salah satu tokoh baik dewasa -- , yang sangat medok Sunda-nya, kemungkinan besar ya beragama Islam.

Selain itu, di kantor pengurus Kemah Kreatif, selain stiker-stiker bernada pelestarian alam ( macam stiker "STOP DEFORESTATION" ), ternyata juga nyempil stiker wanita berjilbab menggunakan bendera Amerika Serikat (model macam poster "We The People Are Greater Than Fear"). Jelas berarti salah satu tokoh dari jagawana di Kemah Kreatif (dan jelas bukan sosok oknum) juga seorang muslim yang tergolong idealis.